loading...
Pasukan Garda Revolusi Iran mengikuti acara di Teheran. Foto/anadolu
BRUSSEL - Para menteri luar negeri Uni Eropa akan membahas apakah akan menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. Usulan ini, yang telah lama dibahas dan berulang kali terhenti, telah mendapatkan momentum setelah beberapa negara anggota utama dilaporkan mengubah posisi mereka.
Sebelumnya, negara-negara termasuk Prancis, Italia, dan Spanyol menyatakan penentangan yang tegas. Mereka berpendapat memasukkan IRGC – cabang resmi militer Iran – ke dalam daftar hitam akan memutuskan saluran diplomatik penting dengan Teheran dan berpotensi memprovokasi tindakan balasan terhadap kepentingan Eropa.
Menurut sumber diplomatik yang dikutip Politico dan Euronews pada hari Rabu, penolakan mereka kini telah melunak. Istana Elysee Prancis dan Kementerian Luar Negeri Spanyol telah menyatakan kesediaan mendukung langkah tersebut, dengan alasan penindakan domestik Iran terhadap protes dan dukungan militernya untuk Rusia. Italia juga dilaporkan mengubah pendiriannya awal pekan ini.
Pergeseran ini meningkatkan kemungkinan tercapainya suara bulat, yang dibutuhkan di antara 27 negara anggota, pada pertemuan mereka pada hari Kamis. Para menteri luar negeri juga diharapkan menyetujui sanksi terpisah yang menargetkan individu dan entitas Iran atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
Negara-negara Barat menuduh IRGC melakukan kekejaman selama kerusuhan baru-baru ini. Iran menuduh AS dan Israel memicu protes, di mana menurut Iran lebih dari 3.000 orang tewas dan banyak bangunan publik dan pemerintah hancur, untuk membenarkan intervensi militer.

















































