Waswas Dolar AS Runtuh, BRICS Timbun Emas Bangun Sistem Keuangan Baru

5 days ago 12

loading...

Kekhawatiran atas potensi runtuhnya dolar AS di kalangan negara-negara BRICS kian menguat. FOTO/AP

JAKARTA - Kekhawatiran atas potensi runtuhnya dolar Amerika Serikat (AS) di kalangan negara-negara BRICS kian menguat setelah mata uang Negeri Paman Sam itu merosot 1,3% pada 27 Januari 2026. Pelemahan tersebut menjadi yang terburuk dalam satu hari sejak April 2025 sekaligus menyentuh level terendah sejak Februari 2022.

Tekanan terhadap dolar AS semakin dalam setelah Presiden AS Donald Trump menepis kekhawatiran pasar atas melemahnya nilai tukar dolar. Pernyataan itu justru ditangkap pelaku pasar sebagai sinyal toleransi Washington terhadap pelemahan mata uangnya, sehingga memicu tekanan jual lanjutan.

"Saya pikir ini bagus. Maksud saya nilai dolar, lihat bisnis yang kami jalankan. Tidak, dolar baik-baik saja," kata Trump kepada wartawan dikutip dari Watcher Guru, Jumat (30/1/2026).

Situasi tersebut menjadi titik balik ketika negara-negara BRICS mempercepat pembangunan sistem keuangan alternatif agar dapat beroperasi lebih independen dari infrastruktur keuangan Barat. Inisiatif ini mencakup pengembangan mata uang digital bank sentral (Central Bank Digital Currency/CBDC) serta mekanisme perdagangan berbasis sumber daya dan mata uang lokal.

Baca Juga: IMF Panik, Dolar AS Terancam Kolaps

Dalam kerangka dedolarisasi, BRICS mulai membangun jalur pembayaran digital lintas negara yang tidak lagi bergantung pada dolar AS. Reserve Bank of India, misalnya, mengusulkan pengaitan CBDC antarnegara anggota seperti e-rupee dan yuan digital guna menciptakan sistem pembayaran langsung. Rusia juga telah mendemonstrasikan purwarupa BRICS Pay pada akhir 2024, dengan implementasi lebih luas direncanakan pada 2026–2027.

Read Entire Article
Prestasi | | | |