loading...
Petambak dan pembudi daya udang meminta pemerintah memperkuat penyerapan produksi lokal. FOTO/iStock Photo
JAKARTA - Pemerintah diminta memperkuat penyerapan produksi lokal serta meningkatkan daya saing industri udang di tengah masuknya udang vaname asal Ekuador ke Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha tambak, industri pengolahan, dan kontribusi udang sebagai salah satu komoditas ekspor utama perikanan Indonesia.
"Jangan sampai udang dari negara lain masuk ke Indonesia dan menimbulkan penyakit yang dapat mengganggu stabilitas harga pasar," ujar Praktisi Udang Nasional Hasanuddin Atjo seperti dikutip pada Rabu (16/9/2026).
Baca Juga: Momen Prabowo Ikut Tarik Jaring Bersama Nelayan Tambak Saat Panen Raya Udang di Kebumen
Kekhawatiran tersebut muncul setelah 120 ton udang vaname asal Ekuador tercatat masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Juni 2026. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan udang tersebut digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan melalui fasilitas Kawasan Berikat dan tidak ditujukan untuk pasar konsumsi domestik.
Atjo mengatakan harga pokok produksi udang dari Ekuador dan India diperkirakan lebih rendah sekitar USD1–1,5 per kilogram dibandingkan udang Indonesia. Perbedaan tersebut menjadi tantangan bagi petambak nasional yang masih menanggung biaya pakan, benur, listrik, bahan bakar minyak, tenaga kerja, dan logistik yang tinggi.
"Kesenjangan biaya produksi inilah yang perlu segera dibenahi jika Indonesia ingin mempertahankan posisi sebagai salah satu produsen dan eksportir udang dunia," ujarnya.

















































