loading...
Kenaikan biaya kesehatan di Indonesia kian meningkat seiring tekanan inflasi medis yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - Kenaikan biaya kesehatan di Indonesia kian meningkat seiring tekanan inflasi medis yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk lebih cermat dalam menjaga keberlanjutan perlindungan kesehatan jangka panjang.
"Kenaikan biaya medis bukan hanya berdampak pada rumah sakit atau industri kesehatan, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat mempersiapkan perlindungan untuk finansialnya," ujar Chief Product Officer Allianz Life Indonesia Cheang Khai Au dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).
Baca Juga: Gangguan Irama Jantung Bisa Sebabkan Stroke, Dialami hingga 7 Juta Orang Indonesia
Inflasi medis dalam beberapa tahun terakhir tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5%. Hal ini menyebabkan biaya layanan kesehatan meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan daya beli masyarakat secara umum.
Data Bank Dunia menunjukkan pengeluaran kesehatan per kapita Indonesia meningkat dari sekitar USD118 pada 2019 menjadi sekitar USD132 pada 2023. Tren ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan sekaligus kenaikan biaya perawatan.
Allianz Indonesia dari sisi industri mencatatkan lonjakan signifikan rata-rata biaya per kasus sejumlah penyakit sepanjang periode 2020–2025. Biaya penanganan penyakit jantung meningkat hingga 219%, kanker 179%, stroke 169%, demam berdarah dengue (DBD) 183%, dan tifoid 116%.

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489013/original/017536600_1769776656-WhatsApp_Image_2026-01-28_at_1.40.19_PM.jpeg)
















