Rusia Untung Besar dari Krisis Selat Hormuz, Ekspor Minyak Tembus Rp42 Triliun per Minggu

2 hours ago 3

loading...

Pendapatan ekspor minyak Rusia melalui jalur laut melonjak ke level tertinggi sejak invasi penuh ke Ukraina. FOTO/Baird Maritime

MOSKOW - Pendapatan ekspor minyak Rusia melalui jalur laut melonjak ke level tertinggi sejak invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022, didorong lonjakan harga global akibat gangguan pasokan energi dari konflik Iran. Kondisi ini memperkuat kas negara Rusia meski upaya Barat untuk menekan pendanaan perang masih berlangsung.

Rata-rata nilai bruto ekspor minyak Rusia dalam empat pekan terakhir mencapai USD2,42 miliar atau setara Rp42 triliun per minggu hingga 3 Mei, dengan volume pengiriman harian naik menjadi 3,66 juta barel, level tertinggi sejak Desember 2025.

Baca Juga: AS Bilang Perang Berakhir, tapi Jet Tempur F/A-18 Amerika Serang Kapal Tanker Iran

Dikutip dari Bloomberg, kenaikan pendapatan tersebut dipicu lonjakan harga minyak dunia setelah Iran menutup Selat Hormuz pada awal Maret 2026, yang menghilangkan sekitar 12 juta barel per hari pasokan minyak Timur Tengah dari pasar global. Badan Energi Internasional menyebut gangguan ini sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia, dengan harga rata-rata minyak Rusia pada April mencapai USD94,87 per barel, tertinggi sejak September 2014.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah Amerika Serikat memberikan pelonggaran sanksi melalui kebijakan pengecualian sementara pada Maret yang kemudian diperpanjang pada April. Kebijakan ini memungkinkan pembelian minyak Rusia yang telah dimuat di kapal tanker, dengan tujuan menjaga stabilitas pasar energi global hingga 16 Mei.

Namun, kebijakan tersebut menuai kritik di dalam negeri Amerika Serikat. Sejumlah anggota Senat dari Partai Demokrat menilai langkah itu justru membuka ruang tambahan pendapatan bagi Rusia di tengah harga minyak yang tinggi.

Read Entire Article
Prestasi | | | |