loading...
Batu kecil, klaim besar: ketika ground clearance 200 mm saja tak cukup menyelamatkan baterai EV. Foto: Jaecoo Indonesia
JAKARTA - Satu suara "pletak" di jalan menuju Semarang membuka cerita tentang seberapa rapuh baterai mobil listrik menghadapi jalan Indonesia.
Rp195,5 juta. Itu angka yang membuat Theodorus Herutomo Theo, pemilik Jaecoo J5 EV, sempat tidak bisa tidur nyenyak. Mobilnya baru serah terima 1 Juli 2026. Belum genap tiga minggu dipakai, sudah harus ganti baterai.
Semua berawal dari suara kecil. "Pletak." Begitu bunyinya, dari bawah mobil, saat Theo sedang dalam perjalanan menuju Semarang.
Tidak lama setelah itu muncul ikon kura-kura hijau di panel instrumen. Tandanya bukan main-main: kecepatan mobil otomatis dibatasi hanya 30 km/jam.
Theo menelepon customer service. Disarankan mematikan mesin 30 menit sampai satu jam. Ia menunggu 40 menit. Mobil kembali normal. Ia melanjutkan perjalanan.
Tapi masalah belum selesai. Sehari kemudian, begitu mobil dinyalakan lagi di Semarang, kura-kura hijau itu muncul lagi. Theo membawa mobilnya ke bengkel resmi Jaecoo Semarang.
Dari situ ia mendapat kabar yang bikin kaget: "nepel"-nya pecah. Bahasa teknisnya, pipa pendingin baterai patah. Solusinya cuma satu: ganti battery pack. Estimasi biaya: Rp195,5 juta.


















































