loading...
Anggota Kolegium Psikologi Klinis Indonesia, Robert O. Rajagukguk, PhD., Psikolog. Foto/Dok Pribadi.
Robert O. Rajagukguk, PhD., Psikolog, Anggota Kolegium Psikologi Klinis IndonesiaSetiap kali sebuah kisah kekerasan dalam relasi muncul ke ruang publik, pertanyaan yang hampir selalu muncul di benak kita adalah: “Mengapa dia tidak pergi?” Pertanyaan ini terdengar sederhana, bahkan masuk akal. Namun sesungguhnya, pertanyaan itulah yang paling sering melukai korban untuk kedua kalinya.
Baru-baru ini ramai diperbincangkan sebuah memoar yang berjudul Broken Strings: Kepingan Masa Muda Yang Patah ditulis oleh Aurelie Moeremans. Seorang teman mengirimkan buku elektronik kepada penulis. Memoar Broken Strings—yang mengisahkan pengalaman kekerasan psikologis dan seksual dalam relasi intim—membuka mata kita pada satu kenyataan penting: bertahan hidup sering kali disalahartikan sebagai kelemahan, padahal justru itulah bentuk kecerdikan jiwa ketika tidak ada pilihan aman lain.
Dalam psikologi modern, khususnya pendekatan psikopatologi relasional, yang menggunakan paradigma psikopatologi dari John Buclew, penderitaan manusia tidak lagi dilihat semata-mata sebagai “masalah individu”, melainkan sebagai jejak dari relasi yang tidak aman, timpang, dan merusak. Banyak respons korban yang tampak “tidak rasional” dari luar—diam, patuh, memaafkan, bahkan kembali—sebenarnya adalah strategi bertahan hidup yang lahir dari ancaman nyata.
Kekerasan dalam relasi jarang dimulai dengan pukulan. Ia sering diawali dengan perhatian berlebihan, klaim cinta yang absolut, dan janji perlindungan. Perlahan, perhatian berubah menjadi kontrol. Kepedulian berubah menjadi tuntutan. Cinta berubah menjadi alat manipulasi. Pada titik ini, korban tidak lagi berhadapan dengan satu peristiwa, melainkan dengan medan relasi yang terus-menerus membuatnya tidak aman.


















































