loading...
Sejumlah akademisi menyoroti pentingnya standardisasi penggunaan galon guna ulang. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - Sejumlah akademisi menyoroti pentingnya standardisasi penggunaan galon guna ulang berbahan polikarbonat sebagai upaya meminimalkan risiko paparan Bisphenol A (BPA) kepada masyarakat. Para pakar menilai batas usia pakai galon perlu menjadi perhatian seiring meningkatnya penggunaan air minum dalam kemasan (AMDK) guna ulang di Indonesia.
"BPA dikenal sebagai senyawa yang mengganggu fungsi normal sistem endokrin tubuh. Sistem endokrin yang terganggu efeknya tidak langsung terasa, namun berbahaya dalam jangka panjang," kata Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Junaidi Khotib seperti dikutip pada Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: BPA Galon Bisa Picu Biaya Kesehatan Jangka Panjang, Pakar Dorong Pencegahan dari Hulu
Junaidi menjelaskan, BPA yang terdapat pada galon berbahan polikarbonat dapat bermigrasi ke dalam air akibat paparan sinar matahari, suhu tinggi, serta penggunaan secara berulang. Menurut dia, kondisi galon yang telah lama digunakan, tergores, atau sering disikat dapat mempercepat pelepasan senyawa tersebut ke dalam air minum.
Ahli polimer Universitas Indonesia Mochamad Chalid mengatakan penggunaan galon secara berulang menyebabkan degradasi ikatan material plastik sehingga meningkatkan potensi migrasi BPA. Karena itu, ia menyarankan galon guna ulang digunakan maksimal 40 kali atau sekitar satu tahun dengan asumsi pengisian ulang dilakukan sekali setiap pekan agar risiko perpindahan BPA dapat ditekan.


















































