Dilema Likuiditas Perbankan: Memarkir Dana atau Membiayai Sektor Riil?

5 hours ago 14

loading...

Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI dan Direktur Riset GREAT Institute. Foto/Ist

Perdana Wahyu Santosa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI dan Direktur Riset GREAT Institute

DI BALIK megahnya gedung-gedung perbankan di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, sebuah dilema sunyi namun krusial sedang berlangsung. Para direktur risiko dan pengelola likuiditas bank saban hari dihadapkan pada pilihan kalkulatif: menyalurkan likuiditas ke sektor riil yang penuh risiko usaha, atau memarkirkannya di instrumen moneter jangka pendek yang memberikan imbal hasil menarik tanpa risiko kredit sama sekali.

Dilema ini memuncak seiring ketatnya kebijakan moneter global dan domestik. Penerbitan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berhasil menyerap likuiditas dan menahan guncangan nilai tukar Rupiah.

Namun, di sisi lain, fenomena ini melahirkan dampak sampingan (side effect): terciptanya persaingan penyerapan dana domestik. Likuiditas perbankan yang seharusnya mengalir sebagai darah bagi ekspansi dunia usaha, sebagian berbelok menuju pelabuhan aman (safe haven) moneter.

Kondisi ini tegar terlihat pada dinamika transmisi suku bunga. Ketika suku bunga acuan dipertahankan tinggi demi meredam gejolak eksternal, suku bunga dana (deposito) dan kredit perbankan turut terkerek. Bagi industri ritel, manufaktur dan UMKM, kenaikan biaya pinjaman (cost of credit) menjadi beban tambahan di tengah daya beli masyarakat yang sedang mengalami normalisasi.

Read Entire Article
Prestasi | | | |