Gencatan Senjata Berakhir, Iran Isyaratkan Siap Hadapi Invasi Darat AS

7 hours ago 4

loading...

Gencatan senjata berakhir, Iran isyaratkan siap hadapi invasi darat AS. Foto/X

TEHERAN - Militer Iran mengisyaratkan kemungkinan beralih ke pendekatan yang lebih ofensif dalam perang melawan Amerika Serikat seiring berakhirnya masa berlaku Nota Kesepahaman (MoU) dengan Washington.

Brigadir Jenderal Yadollah Javani, kepala biro politik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengatakan kepada televisi pemerintah pada Minggu malam bahwa pasukannya siap mengambil tindakan apa pun yang diperlukan untuk mempertahankan negara.

Ketegangan antara Iran dan AS terkait kendali atas Selat Hormuz terus meningkat meskipun kedua belah pihak telah menyepakati gencatan senjata pada bulan Juni. Walaupun nota kesepahaman (MoU) tersebut praktis batal setelah pertempuran kembali pecah bulan lalu, kesepakatan itu secara resmi berakhir pada hari Senin.

"Musuhlah yang memulai perang ini dan upaya kami bersifat defensif, meskipun bisa saja beralih ke aspek ofensif," ujar Javani.

Ia tidak merinci seperti apa langkah-langkah ofensif tersebut, namun menyatakan bahwa pihak lawan patut mewaspadai adanya "kejutan strategis".

Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, pekan lalu menyebut infrastruktur milik AS dan sekutu regional—seperti jaringan energi, pembangkit listrik, dan sistem yang terhubung dengan internet—sebagai target potensial jika AS menyerang infrastruktur sipil Iran.

Politisi garis keras dan media Iran telah membahas gagasan untuk melancarkan serangan darat terhadap kepentingan AS di Bahrain dan Kuwait seandainya Washington menginvasi Iran.

Para analis mempertanyakan kelayakan rencana tersebut serta risiko yang menyertainya, mengingat tidak ada indikasi terkini bahwa AS sedang merencanakan operasi darat di Iran.

Penekanan Iran pada strategi pencegahan ofensif terhadap AS muncul setelah Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei—yang dikenal sebagai tokoh garis keras—memperkuat kekuasaannya dengan menunjuk sejumlah tokoh senior dan orang kepercayaan IRGC untuk menduduki posisi kunci di bidang militer dan keamanan pada pekan lalu.

Khamenei menyatakan bahwa penunjukan Mayor Jenderal Ahmad Vahidi sebagai panglima tertinggi IRGC harus mencerminkan perpaduan antara "pencegahan maksimal" dan kesiapan untuk melakukan "operasi ofensif yang kuat terhadap musuh".

Vahidi mengatakan kepemimpinan Khamenei dan angkatan bersenjata Iran telah berhasil "melumpuhkan tentara dengan persenjataan terberat dalam sejarah dunia" setelah AS dan Israel melancarkan serangan di Iran pada 28 Februari, yang memicu pertempuran sengit antara kedua belah pihak.

Read Entire Article
Prestasi | | | |