loading...
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. FOTO/dok.SindoNews
YOGYAKARTA - Pemerintah terus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Dengan fundamental ekonomi yang relatif solid, berbagai kebijakan fiskal, moneter, serta program strategis nasional diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan, memperluas penciptaan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara inklusif. Sinergi antara Pemerintah dan elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan dan pelaku usaha, menjadi kunci dalam mengakselerasi agenda pembangunan ekonomi nasional.
”Sebuah kehormatan bagi saya untuk hadir di organisasi yang telah menjadi pilar bagi peradaban dan ekonomi umat di Indonesia. Di tahun 2026, ini adalah tahun yang penting. Kita berharap pertumbuhan kita bisa lebih tinggi daripada tahun kemarin yang secara year-on-year 5,11%. Dan bila dibandingkan dengan berbagai negara lain, Indonesia ini salah satu yang potensi resesinya terkecil, yaitu 3%. Jauh lebih rendah dari negara yang di depan kita, seperti Jepang dan Amerika Serikat,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat berdialog bersama warga Muhammadiyah dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Jumat (6/2/2026).
Baca Juga: Resmi Dilantik Jadi Wamenkeu, Airlangga Harap Juda Agung Perkuat Sinkronisasi Fiskal-Moneter
Dari sisi permintaan, konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, didukung belanja Pemerintah serta stimulus yang tepat sasaran sepanjang 2025. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,11% dengan kontribusi 53,88% terhadap PDB, sementara investasi tumbuh 6,12% dengan kontribusi 28,77%. Industri pengolahan menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB, sekaligus mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibandingkan sektor lainnya.
Perbaikan kinerja ekonomi tersebut turut diiringi dengan membaiknya indikator sosial. Tingkat kemiskinan menurun menjadi 8,25% dengan jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 0,70 juta orang, rasio Gini menurun menjadi 0,363, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,7%, serta pasar tenaga kerja mencatatkan tambahan sekitar 1,4 juta orang bekerja.


















































