loading...
Lonjakan harga diesel akibat perang global memaksa industri logistik beralih ke truk listrik demi efisiensi biaya hingga separuh harga. Foto: ist
CHINA - Perang di Iran yang meletus 28 Februari 2026 mengubah peta logistik dunia dalam sekejap. Harga eceran diesel di China melonjak 27%, menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Dampaknya nyata: pengusaha truk tidak lagi melirik solar, mereka berbondong-bondong pindah ke listrik.
Truk berat energi baru kini bukan lagi produk sampingan. Pada kuartal pertama 2026, penjualannya tumbuh 45% secara tahunan menjadi 44.000 unit.
Angka ini mencakup lebih dari seperempat total pasar truk berat, naik tajam dibanding tahun lalu yang masih di bawah 20%.
Tren ini sulit dibendung dengan alasan-alasan dibawah:
• Efisiensi Biaya: Biaya seumur hidup (lifetime cost) truk listrik untuk jarak 1.000.000 KM hanya separuh dari truk diesel.
• Konsumsi Solar: Permintaan diesel di China diprediksi turun 4,3% hingga 5% tahun ini, atau berkurang sekitar 40.000 barel per hari.
• Teknologi: Jika dulu jarak tempuh hanya 300 KM, kini pemain seperti Sany mulai memasarkan truk dengan jangkauan hingga 600 KM.
Min Ji, analis senior di S&P Global Mobility, menegaskan: "Perang telah mendongkrak harga bahan bakar domestik, yang secara tak terelakkan mempercepat penggantian truk tradisional."
Perbandingan Harga: Investasi vs Operasional
Mari kita lihat perbandingan antara truk EV dan diesel. Di China, harga truk berat listrik berada di kisaran 500.000 Yuan (sekitar Rp1.271.550.000), sementara versi diesel jauh lebih murah di angka 300.000 Yuan (sekitar Rp762.930.000).





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489013/original/017536600_1769776656-WhatsApp_Image_2026-01-28_at_1.40.19_PM.jpeg)












