Seni, Ode Visual, dan Ingatan Kolektif Berbangsa

4 hours ago 7

loading...

Seni terlahir secara niscaya mengemban tentang majemuknya narasi sejarah dan identitas. Foto/Istimewa.

JAKARTA - Seni terlahir secara niscaya mengemban tentang majemuknya narasi sejarah dan identitas. Membincangkan cinta kepada negeri seperti menguak sebuah ode visual, yang kali ini tidak hanya memuat puja-puji karunia illahi paras populasi dan etnisitas yang ramah juga alam nan elok.

Ode Visual dalam konteks ini bermakna semacam parodi untuk mengaca sekaligus mengolok-olok diri sebagai warga, bukan glorifikasi kecintaan membabi buta namun kewaspadaan dan kehati-hatian.

Baca juga: Mengintip Sepotong Surga, Catatan Perjalanan Menuju Puncak Trikora Papua

Kecintaan berarti juga penjelmaan refleksi atas kegundahan, rasa sedih, empati mendalam pada yang terkasih, sebab beririsan dengan ingatan kolektif untuk rasa ikut memiliki bahwa negeri sedang berjalan tertatih-tatih selama 81 tahun ini.

Karya dari 26 partisipan dari fotografer, pelukis, pematung, desainer pun arsitek serta pembuat karya instalatif dalam pameran ini menggugah kembali makna keberagaman berekspresi. Yakni, bertemunya berbagai entitas nalar, rasa dan pengalaman-pengalaman yang cerlang pun yang subtil dialami oleh para perupa individual dan yang kolaboratif.

Read Entire Article
Prestasi | | | |