Etika dalam Pengabdian: Membangun Kepercayaan dan Kerja Sama dengan Masyarakat

1 hour ago 3

loading...

Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin Kurniawan. Foto/Dok Pribadi.

Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin Kurniawan

Ada sebuah cerita sederhana yang selalu saya ingat.

Di sebuah barak militer Amerika Serikat, para prajurit sedang antre makan siang. Yang menarik, para komandan justru berdiri di barisan paling belakang. Mereka baru makan setelah seluruh anak buahnya selesai. Tradisi ini disebut officers eat last—pemimpin makan terakhir.

Simon Sinek, penulis buku fenomenal Leaders Eat Last, menyebut prinsip ini sebagai fondasi kepemimpinan sejati. Pemimpin bukan mereka yang minta dilayani, melainkan mereka yang mendahulukan orang-orang yang dipimpinnya.

Saya teringat tradisi serupa di pesantren-pesantren Indonesia. Para kiai tidak pernah meminta santrinya membawakan makanan. Justru sebaliknya, di banyak pesantren, kiai dan keluarganya yang memasak untuk santri di masa-masa awal pendirian. Mereka tidak menyebut diri sebagai pemimpin, melainkan khadim, pelayan umat.

Inilah model kepemimpinan yang melahirkan loyalitas tanpa batas

Mengapa “Mengapa” Itu Penting

Dalam bukunya Start With Why, Simon Sinek mengajukan satu pertanyaan mendasar yang sering dilupakan para pemimpin: mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan?

Kebanyakan organisasi tahu apa yang mereka kerjakan. Sebagian tahu bagaimana cara mengerjakannya.

Tapi hanya sedikit yang benar-benar memahami mengapa mereka melakukan.
Lembaga pendidikan Islam punya jawaban yang sangat jelas untuk pertanyaan ini. Al-Quran menegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 110: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Kata kuncinya adalah “untuk manusia”—bukan untuk diri sendiri, bukan untuk keuntungan institusi, melainkan untuk kemaslahatan umat.

Ketika sebuah pesantren atau madrasah kehilangan “mengapa”-nya, ia akan sibuk mengejar akreditasi, membangun gedung, dan menghitung jumlah siswa. Tapi ketika “mengapa” itu hidup, setiap aktivitas—sekecil apa pun—akan terasa bermakna.

Read Entire Article
Prestasi | | | |